Selasa, 26 April 2016

5 Penyakit Yang Melanda Pendaki

Penanganan Penyakit Gunung

pendaki hipotermiaKegiatan di gunung merupakan salah satu kegiatan di alam bebas. Masyarakat biasa menyebut dengan pendakian. Pendakian kini bukan lagi sebagai sarana alternatif wisata, namun juga sebagai kegiatan pendidikan bahkan untuk penelitian. Selain tujuan diatas, kegiatan ini juga mempunyai resiko yang cukup tinggi, rentan terjadinya kecelakaan, potensi alam yang menimbulkan bahaya, dan kemungkinan lainnya.
Beberapa penyakit gunung ini bisa dicegah jika kita mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian, agar dapat menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati” sangat tepat untuk kegiatan ini. Dengan mengetahui lebih dini dan tahu cara penanganan jika terjadi resiko, maka akan meminimalisir dampak buruk dari kegiatan pendakian yang memang memiliki tingkat resiko cukup tinggi.
Simak juga: 8 Tips Pendaki Pemula
Berikut adalah beberapa kejadian yang dapat diklasifikasikan sebagai penyakit pegunungan (Mountain Sickness) :
  1. HIPOTERMIA
Adalah suatu keadaan dimana suhu jatuh ke dalam suhu dibawah normal. Penyebab terjadinya hipotermia antara lain :
  • Tubuh terendam dalam suhu dibawah titik beku dimana kejadian hipotermia akan cepat berlangsung.
  • Hipotermia akan berlangsung perlahan bila berada/kontak lama dalam lingkungan suhu dingin.
  • Hipotermia lebih mudah terjadi pada seseorang yang kelelahan, kelaparan, ketakutan, tubuh basah, terkena angin dingin, dan kekurangan oksigen pada ketinggian.
Gejala-gelanya :
  • Penurunan suhu tubuh dengan tanda-tanda korban, bila diraba seluruh tubuh terasa dingin dan tampak kelabu dan kebiru-biruan atau pucat
  • Tanda-tanda vital : frekuensi nadi, kuat atau lemahnya denyut nadi tidak normal, begitu juga suhu tubuh dan pernafasannya tidak normal dibandingkan orang normal
  • korban dapat mengalami penurunan kesadaran, mengantuk, mengigau (Linglung) atau tidak sadar.
Penanganannya :
  • Yang harus diperhatikan pertama kali adalah resusitasi ABC, terutama jalan nafas, bila ada henti jantung atau henti nafas segera lakukan RJP.
  • Cegah kehilangan panas, terutama panas tubuh dengan memindahkan korban dari lingkungan dingin. Pada penderita hipotermia ringan biasanya merespon terhadap penghambatan dari luar, dengan melepaskan baju basah dan dingin. Kemudian dipakaikan selimut/jaket yang hangat (bisa juga dengan Sleeping Bag). Dekatkan korban dengan perapian.
  • Berikan korban minuman air gula yang hangat
  • Segera evakuasi sambil memonitor kesadaran umum (kesadaran pernafasan dan denyut jantung)
  1. HIPOGLIKEMI
Adalah keadaan dimana kadar gula dalam darah menjadi rendah disebabkan kekurangan zat gula termasuk cadangan dalam tubuh. Keadaan ini bisa terjadi pada korban yang lama tidak makan atau minum yang mengandung zat gula dalam lingkungan dingin dalam waktu yang cukup lama dengan gejala-gejala :
  • keringat dingin, penglihatan menjadi kabur, kehilangan kemampuan untuk bergerak, kejang, jantung berdebar, cemas, gelisah, bingung bahkan tidak sadar.
Keluhan tersebut akan hilang atau berkurang dengan pemberian zat gula.
Penanganannya :
  • Baringkan korban tanpa bantal
  • Jaga jalan nafas, berikan oksigen bila ada oksigen. Jika terjadi henti jantung dan atau henti nafas lakukan kembali RJP (Resusitasi Jantung Paru) seperti penanganan keadaan umum.
  • Jika korban sadar cepat beri minum atau makanan yang kaya kandungan glukosa (manis, mengandung zat gula/pati)
  • Korban harus tetap diusahakan dalam keadaan sadar, baik itu dengan cara dibangunkan ataupun dengan pemberian rangsangan sakit, hangatkan korban dan secepat mungkin dievakuasi ke instansi kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya.
  1. FROSBITE
Suatu proses penurunan suhu tubuh yang disebabkan oleh suhu dingin yang menyebabkan terjadinya kekakuan atau membekunya anggota tubuh. Gejala-gejala ini dapat kita ketahui pada ujung-ujung jari dan kaki menjadi dingin dan kaku, atau pada kuping/telinga kita jika kita merasa begitu dingin. Frosbite ini biasanya menyerang pada petualang alam bebas di medan es/gunung es.
Frosbite dibagi menjadi dua golongan :
  • Frosbite permukaan
Biasanya yang terkena hanya kulit dan lapisan dibawahnya ditandai dengan terasa kerasnya kulit dan berwarna abu-abu putih, terasa sakit lama-kelamaan menghilang.
Penanganannya :
  • Letakkan bagian yang terkena pada anggota tubuh yang lain yang hangat tetapi jangan digosok agar tidak terjadi kematian/kerusakan jaringan.
  • Rendam dengan air hangat, jangan menyentuh tersebut langsung ke benda panas, api, lampu atau batu panas.
  • Beri makanan dan minuman hangat non alkohol dan gerakan bagian yang terkena, sebaiknya makanan dan minuman yang lembut.
  • Frosbite dalam
Yang terkena adalah otot-otot dan tulang ditandai dengan membesarnya bagian yang terkena dan menjadi kaku dan mati rasa.
Penanganannya :
  • Lakukan pencarian seperti pada penanganan frosbite permukaan lakukan terus menerus dengan berurutan.
  1. DEHIDRASI
Adalah kekurangan cairan yang disebabkan oleh kekurangan pemasukan cairan atau pengeluaran cairan yang berlebihan. Keadaan ini dapat terjadi pada orang-orang yang melakukan aktivitas berat dalam waktu yang cukup lama tanpa mengkonsumsi cukup cairan. Dehidrasi juga dapat terjadi pada orang yang menderita diare. Karena orang yang terkena diare, cairannya banyak yang terbuang melalui pencernaan. Bahaya lain dari dehidrasi adalah terganggunya keseimbangan elektrolit tubuh dan dapat menjadi penyakit pada keadaan bahaya lain seperti kram otot. Heat stroke, syok. Dehidrasi jika dilakukan terus menerus akan menyebabkan kondisi kematian.
Baca pula: Pedoman memilih makanan untuk Survival
Bila ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada semua tingkat harus segera dilakukan penanganan karena keadaan ini dapat segera berubah menjadi keadaan yang lebih berat. Penanganan dehidrasi adalah dengan segera menghindarkan korban dari keadaan yang bisa menyebabkan atau memperberat dehidrasi. Kemudian jika korban dalam keadaan sadar segera berikan cairan yang ditambahkan gula sedikit garam (Larutan Garam Gula = LGG), oralite atau minuman sebanyak-banyaknya untuk menggantikan kehilangan cairan. Hati-hati pada orang yang kurang kooperatif atau tidak sadar karena bisa tersedak dan mengakibatkan kondisinya memburuk.
Tanda-tanda dehidrasi sesuai dengan derajatnya :
Gejala Klinik Ringan Sedang Berat
Kesadaran Sadar Mengantuk/Apatis Tidak sadar
Nadi Agak cepat Cepat Susah teraba
Pernafasan Normal Agak Cepat Lambat
Elastisitas Kulit Normal Agak Turun Sangat Turun
Selaput Lendir Mulut Basah Kering Sangat Kering
Rasa Haus + ++
Air Seni Normal Turun Sedikit Tidak Ada

  1. HEAT STROKE
Adalah gangguan pada tubuh yang disebabkan oleh sengatan panas sebagai akibat kegiatan fisik dilingkungan suhu panas atau cuaca yang sangat panas, sehingga timbul gangguan hebat pada sistem pengaturan suhu tubuh disertai tanda-tanda yang khas yaitu:
  • Kenaikan suhu badan yang tinggi
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran, koma bahkan kematian
Gejala-gejala heatstroke terdiri dari :
  • Gejala Lanjutan : korban menjadi pasif (malas berkomunikasi), muntah yang sangat hebat, suhu tubuh menjadi sangat panas (≥ 45°C), nadi sangat cepat (≥ 160x/menit), pernafasan cepat, kejang pada bagian tubuh tertentu, kulit menjadi merah, panas dan kering.
  • Gejala Kritis : Syok, kesadaran semakin menurun, pupil membesar, kejang pada seluruh tubuh.
Penanganannya :
  • Jaga jalan nafas tetap bebas, pernafasan tetap baik, lakukan RJP jika perlu kecuali gejala heatstroke secara dini, pindahkan ke tempat yang teduh, baringkan korban, longgarkan pakaian dan perlengkapannya.
  • Apabila tidak ada alat pengukur suhu tubuh, kita dapat membandingkan suhu tubuh korban dengan suhu tubuh kita sebagai penolong
  • Dinginkan tubuh korban dengan segera sampai suhu tubuh kira-kira 38.5°C dengan mengompres tengkuk dengan air dingin, dan bila mungkin diberi cukup air minum
  • Keringkan tubuh korban untuk mencegah korban jatuh kedalam keadaan hipotermia.
  • Monitor suhu tubuh setiap 5 menit, jaga korban tetap dalam keadaan sadar.
Catatan :
Jika Heat stroke ini didiamkan akan menyebabkan mati suri, keadaan lebih lanjut dari pingsan dimana fungsi pernafasan menurun dan tidak mencukupi lagi, korban jadi tidak sadar, denyut nadi tidak teraba, dan pernafasan tidak tampak, pupil mata melebar dan ada reaksi terhadap penyinaran, muka pucat kebiru-biruan.
Demikian beberapa penyakit Gunung yang perlu diketahui oleh para pendaki Gunung. Semoga ulasan ini bermanfaat.

Senin, 18 April 2016

pertolongan pertama gigitan binatang

METODE PERTOLONGAN PERTAMA (Gigitan Binatang Berbahaya)

METODE  PERTOLONGAN  PERTAMA
(Gigitan Binatang Berbahaya)
Kasus kasus yang Membutuhkan Pertolongan Pertama
Gigitan Binatang
Gigitan binatang gigitan binatang dan sengatan, biasanya merupakan alat dari binatang tersebut untuk mempertahankan diri dari lingkungan atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwanya. Gigitan binatang terbagi menjadi dua jenis; yang berbisa (beracun) dan yang tidak memiliki bisa. Pada umumnya resiko infeksi pada gigitan binatang lebih besar daripada luka biasa.
Pertolongan Pertamanya adalah:
·    Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan sedikit antiseptik
·    Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut
Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan ganguan saat melakukan  kegiatan di alam terbuka, diantaranya:
Gigitan Ular
Tidak semua ular berbisa, akan tetapi hidup penderita/korban tergantung pada ketepatan diagnosa, maka pad keadaan yang meragukan ambillah sikap menganggap ular tersebut berbisa. Sifat bisa/racun ular terbagi menjadi 3, yaitu:
1.    Hematotoksin (keracunan dalam)
2.    Neurotoksin (bisa/racun menyerang sistem saraf)
3.    Histaminik (bisa menyebabkan alergi pada korban)
Nyeri yang sangat dan pembengkakan dapat timbul pada gigitan, penderita dapat pingsan, sukar bernafas dan mungkin disertai muntah. Sikap penolong yaitu menenangkan penderita adalah sangat penting karena rata-rata penderita biasanya takut mati.
Penanganan untuk Pertolongan Pertama :
  Telentangkan atau baringkan penderita dengan bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung.
  Tenangkan penderita, agar penjalaran bisa ular tidak semakin cepat
  Cegah penyebaran bias penderita dari daerah gigitan
    • Torniquet di bagian proximal daerah gigitan pembengkakan untuk membendung  sebagian aliran limfa dan vena, tetapi tidak menghalangi aliran arteri. Torniquet/  toniket dikendorkan setiap 15 menit selama + 30 detik
    • Letakkan daerah gigitan dari tubuh
    • Berikan kompres es
    • Usahakan penderita setenang mungkin bila perlu diberikan petidine 50 mg/im  untuk menghilangkan rasa nyeri
  • Perawatan luka
    •  Hindari kontak luka dengan larutan asam Kmn 04, yodium atau benda panas
    • Zat anestetik disuntikkan sekitar luka jangan kedalam lukanya, bila perlu pengeluaran ini dibantu dengan pengisapan melalui breastpump sprit atau dengan isapan mulut sebab bisa ular tidak berbahaya bila ditelan (selama tidak ada luka di mulut).
  • Bila memungkinkan, berikan suntikan anti bisa (antifenin)
  • Perbaikan sirkulasi darah
    • Kopi pahit pekat
    • Kafein nabenzoat 0,5 gr im/iv
    • Bila perlu diberikan pula vasakonstriktor

  • Obat-obatan lain
    • Toksoid tetanus 1 ml
    • Antibiotic
Gigitan Lipan
Ciri-ciri
1.    Ada sepasang luka bekas gigitan
2.  Sekitar luka bengkak, rasa terbakar, pegal dan sakit biasanya hilang dengan sendirinya setelah 4-5 jam
Penanganan
1.    Kompres dengan yang dingin dan cuci dengan obat antiseptik
2.    Beri obat pelawan rasa sakit, bila gelisah bawa ke paramedik
Gigitan Lintah dan Pacet
Ciri-ciri
Pembengkakan, gatal dan kemerah-merahan (lintah)
Penanganan
1.    Lepaskan lintah/pacet dengan bantuan air tembakau/air garam
2.    Bila ada tanda-tanda reaksi kepekaan, gosok dengan obat atau salep anti gatal
Sengatan Lebah/Tawon dan Hewan Penyengat lainnya
Biasanya sengatan ini kurang berbahaya walaupun bengkak, memerah, dan gatal. Namun beberapa sengatan pada waktu yang sama dapat memasukkan racun dalam tubuh korban yang sangat menyakiti.
Perhatian :
Dalam hal sengatan lebah, pertama cabutlah sengat-sengat itu tapi jangan menggunakan kuku atau pinset, Anda justru akan lebih banyak memasukkan racun kedalam tubuh. Cobalah mengorek sengat itu dengan mata pisau bersih atau dengan mendorongnya ke arah samping. Balutlah bagian yang tersengat dan basahi dengan larutan garam inggris.

Selasa, 12 April 2016

Penanganan Hypothermia

PERTOLONGAN PADA PENDERITA HYPOTHERMIA
(SUHU TUBUH YANG RENDAH)


Baiklah kita ulang lagi beberapa informasi pada edisi sebelumnya tentang pengaruh kedinginan/hypothermia   pada tubuh manusia. Secara umum pengertian  hypothermia adalah suhu tubuh di bawah normal dimana  kondisi ini terjadi bila temperatur tubuh berada dibawah 35 O C. Pada serangan hypothermia moderate akan berangsur pulih normal dengan baik. Namun demikian, pada hypothermia berat biasanya tidak akan tertolong lagi, karena beratnya penurunan suhu tubuh mencapai 26 o C.

Tanda dan gejala hypothermia sangat beragam dan kadang sulit untuk dikenali, antara lain:
  • Penderita menggigil pada awal kontak dengan temperatur dingin.
  • Kulit kering, pucat dan dingin.
  • Suhu tubuh dibawah normal, 35 C atau di bawahnya.
  • Penderita kadang berpikir tidak rasional dan perlahan mengalami penurunan kesadaran.
  • Rata –rata denyut Nadi dan napas mengalami penurunan.
  • Ketika penderita mengalami gejala tak sadar, denyut nadi dan rerata pernapasan mengalami peningkatan dan sulit dideteksi, sampai akhirnya jantung berhenti berdetak.
  • Pada edisi ini akan kita kupas bersama, bagaimana memberikan pertolongan pada penderita hypothermia dimana penderita berada di luar ruangan /alam terbuka. Dimana hal ini sering terjadi di area-area sebagai berikut  :
  • Cuaca yang sangat dingin terutama di pegunungan.
  • Hujan deras.
  • Cuaca bersalju.
  • Terendam di danau, sungai dan  Laut dingin.
  • Angin yang dingin.
 Berikut beberapa pertolongan yang dapat kita lakukan ; 

  • Penderita dipindahkan ke lokasi yang lebih hangat, kemah maupun tenda yang ada.
  • Tempatkan penderita pada sleeping bag yang ada atau tutup tubuhnya dengan selimut,koran, alumunium /perak foil atau benda-benda lain yang memungkinkan.
  • Sambil menunggu pertolongan datang, dekatkan tubuh anda dengan tubuh penderita, sehingga panas tubuh anda dapat menghangatkan tubuh penderita.
  • Utus satu atau dua orang untuk mencari  pertolongan.
  • Ketika pertolongan sudah datang, penderita segera dipindahkan dengan tandu ke RS terdekat atau rumah  untuk menunggu datangnya ambulans atau helicopter.
Catatan:
  • Jika penderita sadar, beri penderita minuman hangat dan makanan berenergi.
  • Jika penderita tak sadar, buka jalan napas dan periksa ada tidaknya pernapasan. Lakukan pertolongan dengan teknik ABC dan tempatkan pada posisi recovery.

HYPOTHERMIA PADA ANAK

Bayi dan anak dapat berpotensi mengalami hypothermia, hal ini dikarenakan usia tersebut tubuh masih mengalami kesulitan dalam mengatur temperatur ideal bagi tubuh mereka sendiri. Bayi yang mengalami hypothermia bisa jadi tampak sehat sekali, oleh karena itu  hypothermia pada bayi hanya bila terindikasi mengalami kedinginan. Segera hangatkan secara bertahap dan cari pertolongan medis.
TANDA DAN GEJALA
  • Bayi tampak tenang , tenangnya tidak seperti biasanya, mengantuk .
  • Bayi menolak makan.
  • Biasanya wajah, tangan dan kaki tampak merah cerah (bright pink) dan tampak sehat.

HYPOTHERMIA PADA USIA LANJUT

Penuaan hampir dialami semua organ tubuh pada penderita usia lanjut. Termasuk di dalamnya kemampuan mengatur temperatur tubuh juga mengalami penurunan, sehingga seorang tua sering tidak dapat menjaga dirinya sendiri dalam mengatasi hypothermia. Biasanya usia lanjut melewati hari-harinya tanpa dukungan nutrisi dan penghangat tubuh yang cukup. Sehingga penderita usia lanjut tidak menyadari bahwa dirinya mengalami hypothermia. Pengambilan kesimpulan untuk penderita hypothermia juga akan mengalami kesulitan. Apakah penderita mengalami hypothermia sebenarnya, ataukah ada mengalami serangan penyakit lain  seperti stroke atau serangan jantung. Hangatkan penderita secara bertahap dan segera cari pertolongan medis terdekat. 

FROST BITE

Apakah yang dimaksud dengan frost bite? Frost bite adalah suatu kondisi dimana jaringan tubuh tertentu mengalami kedinginan, biasanya jaringan tubuh yang terkena adalah tangan , kaki dan organ yang terpapar udara dingin. Karena mengalami kedinginan dalam waktu yang lama, organ tersebut mengalami luka karena penyempitan pembuluh darah dalam waktu lama akibat cuaca yang sangat dingin. Sebagaimana serangan luka bakar dapat terjadi pada area permukaan dan area yang lebih dalam, demikia pula  frost bite dapat terjadi pada berbagai lapisan tubuh. Untuk mencegah terjadinya frost bite, gunakan pakaian yang cukup menutup dan hangat, dan hindarkan kulit langsung terpapar cuaca dingin.
TANDA DAN GEJALA
  • Area tubuh yang terpapar dingin(permukaan hidung, daun telinga dan jari) mengalami perubahan warna secara bertahap, mulai dari pucat – keputihan- kebiruan danterakhir berwarna hitam.
  • Terjadi pembentukan blister /pengelupasan lapisan kulit terluar.
  • Penderita merasa seperti tertusuk jarum dan terus terasa nyeri akan tetapi secara bertahap terasa terbal dan nyeri akan bertahap hilang karena proses pendinginan mulai menjalar ke area tubuh yang lebih dalam.
  • Kulit terasa berat dan kaku.
TUJUAN
Menghangatkan area tubuh yang mengalami frost bite secara bertahap dan alami untuk mencegah pengrusakan jaringan lebih lanjut dan segera merujuk ke RS terdekat.
PERTOLONGAN
Jika kita temukan tanda-tanda hypothemia, tanda dan gejala hypothermia kita berikan pertolongan lebih dahulu.
Proses penghangatan tubuh yang kita lakukan hendaknya secara kontinue dan berkelanjutan.  Sebab  bila suatu jaringan tubuh mengalami pendinginan, kemudian kita hangatkan dan kemudian mengalami pendinginan lagi  seperti (dalam perjalanan yang lama), hal ini akan mengakibatkan pengrusakan jaringan tersebut. Secara sederhana lakukan terlebih dahulu penutupan area tubuh yang mengalami kedinginan dengan kain bersih secukupnya dan balutan yang tidak terlalu ketat.  Atau bila tidak ada, dapat kita gunakan kantong plastik untuk membungkus area tubuh tadi.  

  • Pada gejala pertama ketika kulit berwarna putih, nyeri, kesemutan dan kaku,pegang area tersebut secara pelan-pelan. Lepas peralatan yang ada pada area seperti cincin dan jam tangan. Hangatkan dengan tangan anda (penolong). Cara yang lain, area yang mengalami forst bite dihangatkan dengan menjepitkan ke ketiak penderita secara bersilangan sampai warna kulit normal kembali.
  • Buatlah lingkungan sekitarnya hangat secepat mungkin. Karena kedinginan, penderita mungkin bingung dan berjalan dengan kaki yang mengalami frost bite, oleh karena itu jika memungkinkan segera pindahkan ke tandu untuk proses pemindahan.
Catatan: jika warna kulit tidak segera kembali, rendam organ tubuh tadi pada air hangat. Periksa dulu kehangatan air dengan siku anda.
  • Jika sudah terdapat perbaikan warna pada kulit yang mengalami frost bite, segera keringkan dengan kain kering yag bersih terbuat dari wool (jika ada) dan lakukan balutan ringan.
  • Tinggikan area frost bite untuk mengurangi pembengkakan.
  • Dengan persetujuan dokter, berikan paracetamol dua tablet.
  • Segera susun rencana ke RS dan gunakan tandu yang aman.
CATATAN:
  • Jangan digosok  gosok area yang mengalami frost bite.
  • Jangan pecahkan blister.
  • Jangan hangatkan area frost bite dengan api atau air panas.
  • Jangan ijinkan penderita merokok.

Teknik Terjun Payung

TERJUN PAYUNG





Latihan Dasar Para/terjun payung udara dilakukan di Pusat Pendidikan Kopassus/Baret Merah di Cijantung Jawa Barat selama 1 bulan penuh, pada awal tingkat 3 bulan Agustus-September..

Saya akan ceritakan suka duka saya pribadi mengikuti latihan dasar para ini…
Kami dari taruna tingkat 3 Akademi Militer diberangkatkan ke Pusdik Passus Batujajar Jabar..
Sekitar 5 km sebelum pintu gerbang Pusdik Passus Batujajar, kami diturunkan dari kendaraan yang mengangkut kami, kemudian kami diperintahkan lari campur jalan menuju pintu gerbang dengan membawa seluruh perlengkapan masing masing, berupa ransel dan plunyesak berisi perlengkapan lapangan….sebagai acara ” Selamat Datang”...
Sesampainya di pusdik para, kami ditempatkan dibarak latihan……
Besok paginya kami harus bangun subuh jam 4 pagi, terus apel subuh, senam pagi dan dibawa lari keliling kompleks sampa kami teler…..
Setelah itu kami diizinkan mandi dan makan kemudian jam 07.00 apel pagi lagi dan mulai rangkaian test mental fisik untuk bisa ikut pendidikan Para/terjun payung…Push up, sit up, pull up, scout jump dan lari lapangan….
Setelah itu kami disuruh naik sebuah menara dengan ketinggian sekitar 40-50 meter…test keberanian diketinggian…Yang tidak sanggup, tidak boleh ikut latihan Para, tidak lulus test…
Saya pribadi tidak ada masalah dengan seluruh test tersebut dan dinyatakan bisa melanjutkan pendidikan Dasar Para di Pusdik Passus Batujajar…
Kemudian mulailah dilakukan apa yang dinamakan Ground Training, yaitu latihan didarat yang merupakan simulasi pelaksanaan terjun sebenarnya dari atas pesawat terbang yang sedang terbang diudara…
Latihan ini untuk mempersiapkan fisik dan mental kami agar berani meloncat dari pesawat yang sedang terbang dan menguasai tekniknya agar kami bisa selamat sampai didaratan….
Setelah ground training selesai, tibalah saat yang paling mendebarkan, yaitu saat pertama kali meloncat dari pintu pesawat terbang yang sedang terbang tinggi diudara.. dengan beban membawa payung udara dipunggung dan payung cadangan didepan perut yang berat total sekitar 50 kg…
Kalau pernah melakukan Bungee Jumping di Denpasar Bali, mungkin agak bisa merasakan bagaimana rasa takut kalau akan terjun dari suatu ketinggian sekitar 30 m……dan untuk terjun payung udara kami terjun/melompat dari pesawat dengan ketinggian sekitar 300-350 meter dan kecepatan sekitar 300km/jam. dengan beban sekitar 50 kg dibadan….Kalau ada kesalahan dalam pelipatan payung atau teknik meloncat dari pesawat resikonya sangat tinggi, tubuh cacat atau badan hancur dan mati….
Untuk membangkitkan semangat dan agar hapal apa yang harus dilakukan pada saat kritis diudara, kami diajarkan nyanyian dengan lirik yang dapat sedikit menggambarkan prosedure baku yang harus menjadi instink/naluri para penerjun udara dan suasana hati para penerjun…….., sebagai berikut:

Judul: “PENERJUNAN”
“Bila apel malam telah tiba…
Segera bacakan penerjunan…
Hatiku dag dig dug tak karuan…
Memikirkan nasib seseorang….
Bila aku peloncat pertama…
Segera berdiri dekat pintu…
Pandangan tetap lurus kedepan…
Sikap exit jangan dilupakan…
Bila payung sudah mengembang…
Segera periksalah keliling…
Hindarkan tabrakan antar kawan…
Tarik kemudi depan belakang…
Bila payung tidak mengembang…
Segera cabut payung cadangan….
Bila itupun tidak mengembang…..
Serahkan nyawamu pada Tuhan….

( Bait terakhir ini sering kami pelestkan menjadi: “Serahkan pacarmu pada teman….”….sekedar untuk bercanda agar tidak terlalu tegang berpikir tentang nasib seseorang…)
Kami selalu nyanyikan lagu ini setiap sebelum apel malam dan pada saat lari keliling kompleks pendididkan terjun…Juga pada saat kami dipesawat sebelum terjun dari pesawat….
Penerjunan yang pertama kali adalah ujian mental yang paling berat bagi setiap calon penerjun payung udara…Setelah namanya dibacakan dalam daftar penerjunan, berbagai reaksi yang terjadi, ada yang berteriak gembira, ada yang diam seribu basa denga muka pucat pasi, ada yang biasa biasa saja…..
Saya termasuk yang biasa biasa saja…rasa takut memang tetap ada, tapi masih bisa dikendalikan…saya selalu berprinsip Do the Best and Let God Take The Rest…..saya selalu melakukan yang terbaik sesuai presedure yang ditentukan oleh para pelatih…kalau nantinya saya harus mati akibat kecelakaan penerjunan, ya itu sudah kehendak Tuhan…bukan salah saya lagi….
Begitu nama saya dipanggil dalam daftar penerjun oleh pelatih, saya langsung bereteriak: “Siap!”…
Kemudian mengambil perlengkapan terjun dari pelatih dan memeriksa ulang seluruh perlengkapan terjun (Payung utama dan cadangan yang sudah terlipat rapih boleh pelatih)…saya periksa bagian luarnya jangan sampai ada orang iseng mengikat karet pengatur lepasnya tali parasut, atau bagian lain yang berubah dan tidak aman….
Kemudian perlengkapan terjun saya bawa ketempat tidur saya dan diatur dengan baik disebelah saya….Kemudian setelah shalat, saya berdoa pada Tuhan agar penerjuan besok pagi berlangsung dengan aman dan lancar….
Besok paginya, setelah apel dan pemeriksaan kesiapan para calon penerjun, kami diangkut ke lapangan terbang Husein Bandung dengan truk Kopassus…sepanjang jalan kami terus menerus menyanikan lagu Penerjunan; agar semua prosedure penerjunan menjadi instink dan refleks, tidak usah kami pikir lagi…kadang kadang diselingi lagu mars Taruna Argahantu, lagu perjuangan Halo Halo Bandung dll…
Pada saat mulai berangkat semua suara yang nyanyi masih bersemangat dan tidak ada yang fales/sumbang….Tapi begitu sampai diarena lapangan terbang, sudah melihat pesawat terbang yang siap mengangkut dan menerjunkan kami, tak terasa suara kami mulai sumbang/fales dan hati mulai dag dig dug…
Begitu kami mulai naik pesawat terbang sesuai dengan urutan penerjunan, kami sudah terdiam seribu bahasa, mulut mulai komat kamit berdoa….sebagian ada yang sibuk bulak balik minta diperiksakan teman dibelakangnya apakah tali temali parasutnya masih tersusun rapih dipunggungnya…Ada yang mau minta izin kencing lagi, tapi sudah dilarang karena sudah naik pesawat, terpaksa nahan kebelet pipis dipesawat…kebeletnya karena ketakutan…
Ada yang pura pura senyum lebar, tapi senyumnya kecut…macam macamlah perilaku kami yang baru pertama kali akan melakukan penerjunan dari pesawat terbang….
Begitu pesawat terbang mengudara, kami siap berdiri dipesawat dengan mencantelkan kabel statik payung udara kami kepada kabel kawat baja yang terletak diatas kepala kami…
Menjelang droping zone/daerah penerjunan, penerjun pertama harus sudah berdiri didepan pintu pesawat, dengan pandangan lurus kedepan agar tidak takut ketinggian pesawat…posisi kepala ditekuk rapat kedagu, kedua tangan memegang pintu yang sudah terbuka, badan jongkok sedikit, kaki kanan siap dilemparkan kedepan begitu ada perintah:”Go !” dari pelatih yang mendampingi/Jump Master..
Paling tegang adalah para penerjun dengan nomor urut pertama, karena ia harus berlama lama berdiri didepan pintu…karena itu biasanya dipilih yang mentalnya kuat betul….sebab kalau dia migok gak berani lompat, yang belakangnya jadi kacau, bisa bertabrakan didalam dan diluar pesawat…
Jadi saat paling kritis untuk suatu penerjunan yang pertama kali adalah saat perintah “GO” dikeluarkan dan semua penerjun harus secepat mungkin terjun keluar dari pesawat setiap satu detik…Kalau ada yang mogok, akan terpaksa ditendang atau dilemparkan dari pesawat terbang, dan posisi exit nya jadi jungkir balik..ini akan berakibat fatal, karena payung udaranya bisa tersangkut dipesawat atau berkembang tidak sempurna, kuncup atau sampai tidak terbuka sama sekali…
Dalam keadaan normal. setelah hitungan ke empat detik, payung akan terbuka sendiri karena tali statiknya memang disangkutkan dipesawat, menarik bagian pelindung kanopi, dan kemudian payung terkembang sempurna dalam hitungan 10 detik….
Tapi kalau terjadi kelainan/eror teknis ataupun personal eror, bisa payung terkembang baru setelah mendekati tanah….itu sering terjadi…akibat kuncup atau payung utama tidak terkembang, terpaksa cabut payung cadangan…
Pengalaman terjun yang pertama kali dari pesawat terbang, tak akan terlupakan seumur hidup…sangat menegangkan…tapi begitu payung terkembang pada detik keempat, dimana terasa sentakan dipunggung akibat tarikan payung yang mulai terkembang, sampai terkembang sempurna pada hitungan detik ke 10 sampai 20, lalu melihat keliling, tampak pemandangan indah daerah penerjunan dari ketinggian 300 meter….yang lebih nikmat adalah perasaan lega, lolos dari maut….kami terpana beberapa detik untuk meyakinkan bahwa payung kami betul terkembang sempurna dan sementara waktu selamat…..Setelah yakin itu, mulai kami direpotkan dengn arah angin yang meniup kami dan usaha agar jangan tabrakan dengan payung teman yang duluan dan yang belakangan terjun…
Setelah lolos dari kemungkinan tabarakan, lalu disibukan agar kami bisa mendarat di droping area, jangan sampai terbawa ketiang listrik tegangan tinggi yang mematikan dan atau kebun salak yang penuh durinya…
Pada saat itu payung kami masih tipe MC11B yang lubang anginnya kecil. Kalau angin sedang relatif kencang, kami terbawa angin jauh dari droping zone, ada yang masuk perumahan/diatas genting, ada yang nyangkut dipohon salak, ada yang nyaris ke landasan….
Jadi setiap penerjunan, kami berdoa agar anginnya sangat tenang, atau tidak ada angin sama sekali…bisa menikmati melayang layang diudara tanpa ketakutan terbawa angin ketempat berbahaya….
Alhamdulilah, selama 9 kali penerjunan wajib kami, saya selamat tak pernah mendapat kesulitan yang serius…palin sial hanya terseret angin didroping zone, belum pernah mengalami jatuh dan terkena duri pohon salak ataupun jatuh diatas genting rumah penduduk….
Penerjunan yan terakhir, walau sudah berkurang rasa takutnya, tapi karena berkaitan dengan nyawa, rasa cemas naik lagi, karena memikirkan bahwa jangan sampai sudah capai latihan, gagal dipenerjunan terakhir dan bukan pulang sudah pakai wing didada kiri, tapi pulang hanya nama saja….apalagi pada saat upacara penyematan wing para, kami diizinkan mengundang keluarga terdekat untuk menyematkan wingnya…dan saya meminta keluarga dan pacar saya untuk datang ke Pusdik Batujajar…
Tapi atas izin Allah penerjunan saya yang kesembilan kalinya/terakhir, berjalan mulus dan selamat….justru saya bisa menikmati enaknya melayang layang diudara melihat pemandangan indah daerah Batujajar….menikmati lolos dari maut…

SAR

Pencarian dan penyelamatan


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Helikopter EH1010 Kanada untuk usaha mencari dan menyelamatkan.
BALSA PESCANTE.JPG

Pelatihan SAR
Pencarian dan penyelamatan (bahasa Inggris: search and rescue; SAR), adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan, dan bencana. Istilah SAR telah digunakan secara internasional tak heran jika sudah sangat mendunia sehingga menjadi tidak asing bagi orang di belahan dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat darurat dan lain-lain, sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar, tabrakan, kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran, gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Terhadap musibah bencana alam, operasi SAR merupakan salah satu rangkaian dari siklus penanganan kedaruratan penanggulan bencana alam. Siklus tersebut terdiri dari pencegahan (mitigasi) , kesiagaan (preparedness), tanggap darurat (response) dan pemulihan (recovery), dimana operasi SAR merupakan bagian dari tindakan dalam tanggap darurat.
Di bidang pelayaran dan penerbangan, segala aspek yang melingkupinya termasuk masalah keselamatan dan keadaan bahaya, telah diatur oleh badan internasional IMO dan ICAO melalui konvensi internasional. Sebagai pedoman pelaksanaan operasi SAR, diterbitkan IAMSAR Manual yang merupakan pedoman bagi negara anggotanya dalam pelaksaan operasi SAR untuk pelayaran dan penerbangan. Untuk menyeragamkan tindakan agar dicapai suatu hasil yang maksimal maka digunakan suatu Sistem SAR (SAR Sistem) yang perlu dipahami bagi semua pihak terlibat. Dalam pelaksanaan operasi SAR melibatkan banyak pihak baik dari militer, kepolisian, aparat pemerintah, organisasi masyrakat dan lain-lainnya. Demikian juga sesuai dengan ketentuan IMO dan ICAO setiap negara wajib melaksanakan operasi SAR. Instansi yang bertanggung jawab di bidang SAR berbeda-beda untuk setiap negara sesuai dengan ketentuan berlaku di masing-masing negara, di Indonesia tugas tersebut diemban oleh Badan SAR Nasional (BASARNAS).


Organisasi SAR


Sekoci penyelamat lifeboat

Sebuah sekoci penyelamat

Pengertian

SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan percarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun harta benda yang berharga lainnya.

Hakikat

SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada, baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.

Perkembangan Organisasi

Semenjak terbentuknya pada Tgl. 28 februari 1972 dan dalam perkembangannya, organisasi SAR telah mengalami beberapa kali perubahan yang di lakukan oleh pemerintah untuk lebih mengoptimalkan organisasi SAR. Adapun perubahan – perubahan yang pernah dilakukan adalah;
  • Keppres No. 11 Thn. 1972. di sebutkan bahwa BASARI ( Badan SAR Indonesia) mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari Pimpinan, Pusat Kordinasi SAR Nasional (PUSARNAS), Pusat Kordinasi Rescue, Sub–Sub Pusat Kordinasi Rescue serta Unsur – Unsur SAR.
  • Keppres No. 44 Thn. 1974. Di jelaskan antara lain bahwa PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) berada di bawah Departemen Perhubungan.
  • Keppres No. 28 Thn. 1979 . di jelaskan bahwa BASARI termasuk anggota BAKORNAS PBA (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam).
  • Keppres No. 47 Thn 1979. PUSARNAS diganti menjadi BASARNAS (Badan SAR Nasional). Perubahan PUSARNAS menjadi BASARNAS di sertai pula dengan perubahan eselon dari eselon II menjadi eselon I atau setingkat Direktorat Jenderal. Dan untuk kelancaran tugas – tugas di lapangan, Menteri perhubungan telah mengeluarkan instruksi bahwa Kepala BASARNAS ditunjuk sebagai kuasa ketua BASARI untuk tugas – tugas di lapangan.

BASARNAS

BASARNAS mempunyai tugas pokok untuk membina dan mengkoordinasikan semua usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan Internasional terhadap manusia ataupun benda berharga lainnya.
Kantor Koordinasi rescue (KKR)
Mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsur dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggung jawabnya.

Tingkat Keadaan Darurat

Dalam SAR dikenal adanya 3 tingkat keadaan darurat:
  • Inserfa
  • Destresfa
  • Alertfa

Komponen

Sebelum di aktifkannya suatu kegiatan operasi SAR, tentunya harus di dahului dengan adanya berita suatu musibah atau sesuatu yang menghawatirkan atau di khawatirkan akan terjadi musibah. Penyelenggaraan operasi SAR akan berlangsung dengan baik bila di dukung oleh komponen – komponen SAR yang meliputi ; organisasi, fasilitas, komunikasi, medik dan dokumentasi.

Keorganisasian

Organisasi dalam misi SAR akan dibentuk dalam jangka waktu tertentu demi kelancaran koordinasi dan pengendalian unsur-unsur SAR yang ada hingga kegiatan menjadi efektif dengan hasil yang optimal. Organisasi ini akan bubar dengan sendirinya apabila operasi SAR telah dinyatakan selesai. Untuk itu perlu diketahui tugas dan tanggung jawab serta hubungan dari setiap unsur SAR.
SC (SAR Cordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.
SMC (SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang di tunjuk oleh kepala BASARNAS/KKR karena memiliki kualifikasi yang di tentukan atau telah mengikuti pendidikan sebagai seorang SMC yang di akui. SMC akan mengkoordinasikan dan mengendalikan operasi SAR dari awal sampai akhir. Tugas dan tanggung jawab SMC:
  • Mendapatkan informasi tentang musibah.
  • Mendapatkan informasi tentang cuaca.
  • Menentukan/membagi areal pencarian dan cara serta fasilitas yang akan di gunakan.
  • Mengadakan debriefing terhadap unsur-unsur SAR yang akan dilibatkan.
  • Mengevaluasi setiap perkembangan (berdasarkan data-data yang di terima).
  • Melaporkan kegiatan secara teratur ke BASARNAS/KKR.
  • Mengatur dropping perbekalan.
  • Mengadakan koordinasi dengan KKR tetangga bila areal pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.
  • Menyarankan penghentian pencarian bila di pandang perlu.
  • Membebaskan unsur SAR atau menghentikan kegiatan bila bantuan mereka tidak di butuhkan.
  • Membuat laporan akhir perihal hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
Pada umumnya pengendalian SAR di lakukan di KKR namun bila tidak memungkinkan, SMC dapat berpindah sementara ke daerah yang lebih dekat dengan lokasi operasi dan mengendalikan dari daerah tersebut.
OSC (On Scene Commander)
OSC adalah pejabat yang di tunjuk oleh SMC untuk melaksanakan sebagian tugas SMC di lapangan. Persyaratan pejabat OSC sama dengan persyaratan seorang pejabat SMC. OSC melaksanakan tugas sebatas yang di delegasikan kepadanya. Hal ini biasanya di lakukan bila lokasi pencarian sulit untuk di kendalikan secara langsung oleh SMC atau SMC merasa perlu adanya OSC untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya.
SRU (Search And Rescue Unit)
SRU adalah unsur SAR yang di operesikan dalam kegiatan SAR dan mengikuti pentahapan penyelenggfaraan operasi. SRU dapat berasal dari berbagai organisasi/instansi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan operasi SAR. STRUKTUR ORGANISASI MISI SAR SC >>> SMC >>> SRU atau SC >>> SMC >>> OSC >>> SRU

Fasilitas

Yang termasuk dalam fasilitas SAR adalah semua pendukung penyelenggaraan dalam kegiatan operasi SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah, swasta, perusahaan, kelompok/organisasi masyarakat maupun perorangan. Jenisnya dapat berupa personil terlatih, kendaraan, alat komunikasi dll.

Komunikasi

Komukasi akan berperan dalam penyampaian informasi dari satu unit ke unit lainnya secara cepat dan akan lebih memudahkan dalam pengendalian operasi terlebih dalam keadaan emergency.

Pelayanan Darurat Medik

Dalam pelaksanaan operasi SAR sangat diperlukan adanya pelayanan darurat medik untuk memberikan pertolongan pertama bila ada korban yang membutuhkan sebelum di tangani oleh pihak yang lebih berkompeten. Pelayanan ini juga di butuhkan pada saat melakukan evakuasi dan mobilisasi korban.

Dokumentasi

Dokumentasi berguna untuk memberikan data dan keterangan serta analisa dari informasi misi SAR yang diterima termasuk mulai dari tahap kekhawatiran sampoai tahap konklusi misi, khususnya catatan baik secara tulisan atau visual. Ini merupakan bahan untuk evaluasi dan pedoman untuk kegiatan selanjutnya SAR pada hakikatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai falsafah Pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana maupun musibah lainnya.
Dari batasan pengertian dan hakikat SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama adalah pelaksanaan operasi. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi hanya akan bisa berjalan dengan efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang mantap. Pembinaan SAR yang dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan/pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian terhadap unsur/sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang dipersyaratkan.

Arti Penting Eksistensi SAR

Pada dasarnya kegiatan SAR ini dilaksanakan oleh Negara-negara diseluruh dunia, oleh sebab itu pengaturan mengenai SAR telah disepakati juga dalam konvensi Internasional yang tentunya akan mengikat bagi Negara-negara yang telah meratifikasinya. Konvensi Internasional dimaksud adalah :
  • Adanya ketentuan dari ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) yaitu Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dalam Konvensi Chicago, 1944 pada Pasal VI tentang Internasional Standard and Recommended Practices Annex 12 “Search and Rescue”, antara lain berisi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan SAR yang meliputi organisasi, tugas, dan kerja sama dengan Negara-negara tetangga.
  • Adanya ketentuan dari IMO (International Maritime Organization) atau Organisasi Pelayaran Inernasional, sesuai dengan Konvensi SOLA (Safety of Live at Sea) 1974 yang menentukan bahwa Negara memiliki kewajiban untuk membentuk sistem pengawasan/penjagaan pantai dan melakukan penyelamatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perairannya.
  • Dengan adanya ketentuan internasional yang bersifat mengikat tersebut, Negara wajib memiliki organisasi SAR yang mampu untuk menangani musibah penerbangan dan pelayaran di wilayah tanggung jawabnya sesuai dengan petunjuk teknis yang tertuang dalam IAMSAR Manual.
  • Apabila Negara tidak bisa memberikan pelayanan di bidang SAR, maka Negara yang bersangkutan dikenai status “Black Area” yang berpengaruh negatif terhadap aspek perekonomian, sosial politik, HANKAM, dan aspek-aspek lainnya, bahkan bisa dicabut dari keanggotaan ICAO & IMO.

Sifat Operasi

  • Kemanusiaan.
  • Netral.
  • Cepat, Cermat, Cekatan.
  • Tepat dan Aman.
  • Koordinatif.
  • Borderless.

Kemampuan Dasar

Sesuai dengan arti kata SAR yang berarti Search (Pencarian) dan Rescue (Pertolongan/Penyelamatan),maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis SAR serta beberapa disiplin ilmu sebagai penunjang/pendukung. Ilmu pengetahuan dan keterampilan serta disiplin ilmu pendukung yang dimaksud adalah :
  • Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan lain-lain.
  • Unsur Pencarian (Search).
    • Teknik Pencarian di Darat.
    • Teknik Pencarian di Laut.
    • Teknik Pencarian dari Udara.
  • Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue) :
    • Evakuasi.
    • Medical First Response.
  • Unsur Pendukung/Penunjang :
    • Navigasi.
    • Mountaineering.
    • Survival.
    • Komunikasi Lapangan.
    • Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.
    • Helly Rescue.

Kompetensi Dasar Tenaga SAR

  • Fisik yang prima dan sikap mental yang tangguh.
  • Memiliki pengetahuan yang cukup.
  • Memiliki keterampilan yang dipersyaratkan.
  • Mampu menjalin koordinasi dengan baik.

Pelaksanaan Operasi SAR

  • Operasi SAR diaktifkan segera setelah diketahui dengan pasti adanya musibah atau terjadi keadaan darurat.
  • Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah dijakinkan keadaan darurat tidak terjadi lagi (Fase Alert) atau sudah dapat diatasi, atau bila hasil analisa / evaluasi berdasarkan Time Frame For Survival (TFFS) survivor/korban bahwa harapan untuk selamat setelah hari ke 7 (ketujuh) operasi SAR dilaksanakan sudah tidak ada lagi.
  • Opersai SAR merupakan gabungan kegiatan dari Operasi Search dan Operasi Rescue yang pada pelaksanaannya dapat berupa :
    • Operasi Pencarian tanpa Operasi Pertolongan.
    • Operasi Pertolongan/Penyelamatan tanpa operasi pencarian.
    • Operasi Pencarian yang dilanjutkan Operasi Pertolongan.

PPGD

    Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD)


PPGD



Latar Belakang
B-GELS atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Pertolongan Pertama Pada Gawat
Darurat (PPGD) adalah serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada
kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian.
Di luar negeri, PPGD ini sebenarnya sudah banyak diajarkan pada orang-orang awam
atau orang-orang awam khusus, namun sepertinya hal ini masih sangat jarang diketahui
oleh masyarakat Indonesia.


Melalui artikel ini, saya ingin sedikit memperkenalkan PPGD kepada pembaca sekalian.
Prinsip Utama
Prinsip Utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat
darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah “Time Saving is Life Saving”, dalam artian
bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-
benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa
dalam hitungan menit saja ( henti nafas selama 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian)


Langkah-langkah Dasar
Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D ( Airway –
Breathing – Circulation – Disability ). Keempat poin tersebut adalah poin-poin yang harus
sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat darurat

Algortima Dasar PPGD
1.Ada pasien tidak sadar
2.Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
3.Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong


4.Cek kesadaran pasiena.Lakukan dengan metode AVPU
b.A –> Alert : Korban sadar jika tidak sadar lanjut ke poin V
c. V –> Verbal : Cobalah memanggil-manggil korban dengan berbicara keras di telinga
korban ( pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh
pasien ), jika tidak merespon lanjut ke P
d.P –> Pain : Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah
menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku), selain itu dapat juga
dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal diatas mata
(supra orbital)
e.U –> Unresponsive : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi
maka pasien berada dalam keadaan unresponsive


5.Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelpon ambulans
(118) dengan memberitahukan :
a.Jumlah korban
b.Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)
c. Perkiraan usia dan jenis kelamin ( ex: lelaki muda atau ibu tua)
d.Tempat terjadi kegawatan ( alamat yang lengkap)


6.Bebaskan lah korban dari pakaian di daerah dada ( buka kancing baju bagian atas agar
dada terlihat


7.Posisikan diri di sebelah korban, usahakan posisi kaki yang mendekati kepala sejajar
dengan bahu pasien


8.Cek apakah ada tanda-tanda berikut :
a.Luka-luka dari bagian bawah bahu ke atas (supra clavicula)
b.Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat (misal : terjatuh dari sepeda motor)
c. Berdasarkan saksi pasien mengalami cedera di tulang belakang bagian leher


9.Tanda-tanda tersebut adalah tanda-tanda kemungkinan terjadinya cedera pada tulang
belakang bagian leher (cervical), cedera pada bagian ini sangat berbahaya karena disini
tedapat syaraf-syaraf yg mengatur fungsi vital manusia (bernapas, denyut jantung)
a.Jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift.
http://www.toadspad.net/ems/graphics/cpr-head-tilt.jpg
Chin lift dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu (bagian dagu yang keras) ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisi seperti figure berikut. Ini dilakukan untuk membebaskan jalan napas korban.

b.Jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust
http://www.toadspad.net/ems/graphics/cpr-head-tilt2.gif
Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher pasien.


10. Sambil melakukan a atau b di atas, lakukan lah pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (Pernapasan) pasien.

11. Metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel
http://z.about.com/f/p/440/graphics/images/en/18158.jpg

Look : Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris ?
Listen : Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)

Jenis-jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas :
a.Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan napas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah). Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll). Pindahkan benda tersebut
http://home.utah.edu/~mda9899/Image25b.gif

b. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oleh cairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu lakukanlah finger-sweep (sesuai namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut dengan kain untuk “menyapu” rongga mulut dari cairan-cairan).
http://home.utah.edu/~mda9899/Image25a.gif

c.Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja
Jika suara napas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalan napas, maka dapat dilakukan :
a.Back Blow sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan telapak tangan daerah diantara tulang scapula di punggung
b.Heimlich Maneuver, dengan cara memposisikan diri seperti gambar, lalu menarik tangan ke arah belakang atas.
http://home.utah.edu/~mda9899/Image23.gif

c.Chest Thrust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara memposisikan diri seperti gambar lalu mendorong tangan kearah dalam atas.
http://home.utah.edu/~mda9899/Image24.gif

Feel : Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa napas dari korban ?

12. Jika ternyata pasien masih bernafas, maka hitunglah berapa frekuensi pernapasan pasien itu dalam 1 menit (Pernapasan normal adalah 12 -20 kali permenit)

13. Jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi pasien dengan tetap melakukan Look Listen and Feel

14. Jika frekuensi nafas < 12-20 kali permenit, berikan nafas bantuan (detail tentang nafas bantuan dibawah)

15. Jika pasien mengalami henti nafas berikan nafas buatan (detail tentang nafas buatan dibawah)

16. Setelah diberikan nafas buatan maka lakukanlah pengecekan nadi carotis yang terletak di leher (ceklah dengan 2 jari, letakkan jari di tonjolan di tengah tenggorokan, lalu gerakkan lah jari ke samping, sampai terhambat oleh otot leher (sternocleidomastoideus), rasakanlah denyut nadi carotis selama 10 detik.
http://home.utah.edu/~mda9899/Image15.gif


17. Jika tidak ada denyut nadi maka lakukanlah Pijat Jantung(figure D dan E , figure F pada bayi), diikuti dengan nafas buatan(figure A,B dan C),ulang sampai 6 kali siklus pijat jantung-napas buatan, yang diakhiri dengan pijat jantung
http://blogs.edweek.org/edweek/thisweekineducation/upload/2007/07/does_the_pulse_need_cpr/no%20pulse.jpg


18. Cek lagi nadi karotis (dengan metode seperti diatas) selama 10 detik, jika teraba lakukan Look Listen and Feel (kembali ke poin 11) lagi. jika tidak teraba ulangi poin nomer 17.

19. Pijat jantung dan nafas buatan dihentikan jika
a.Penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
b.Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian (kaku mayat)
c.Bantuan sudah datang
d.Teraba denyut nadi karotis


20. Setelah berhasil mengamankan kondisi diatas periksalah tanda-tanda shock pada pasien :
a.Denyut nadi >100 kali per menit
b.Telapak tangan basah dingin dan pucat
c.Capilarry Refill Time > 2 detik ( CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dg kuku pemeriksa selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yg dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi)


21. Jika pasien shock, lakukan Shock Position pada pasien, yaitu dengan mengangkat kaki pasien setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung
http://www.medtrng.com/cls2000a/fig11-1.gif


22. Pertahankan posisi shock sampai bantuan datang atau tanda-tanda shock menghilang

23. Jika ada pendarahan pada pasien, coba lah hentikan perdarahan dengan cara menekan atau membebat luka (membebat jangan terlalu erat karena dapat mengakibatkan jaringan yg dibebat mati)

24. Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi pasien dengan Look Listen and Feel, karena pasien sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba.
Nafas Bantuan
Nafas Bantuan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk menormalkan frekuensi nafas pasien yang di bawah normal. Misal frekuensi napas : 6 kali per menit, maka harus diberi nafas bantuan di sela setiap nafas spontan dia sehingga total nafas permenitnya menjadi normal (12 kali).
Prosedurnya :

1. Posisikan diri di samping pasien
2. Jangan lakukan pernapasan mouth to mouth langsung, tapi gunakan lah kain sebagai pembatas antara mulut anda dan pasien untuk mencegah penularan penyakit2
3. Sambil tetap melakukan chin lift, gunakan tangan yg tadi digunakan untuk head tilt untuk menutup hidung pasien (agar udara yg diberikan tidak terbuang lewat hidung).
4. Mata memperhatikan dada pasien
5. Tutupilah seluruh mulut korban dengan mulut penolong
http://home.utah.edu/~mda9899/Image13.gif

6.Hembuskanlah nafas satu kali ( tanda jika nafas yg diberikan masuk adalah dada pasien mengembang)
7.Lepaskan penutup hidung dan jauhkan mulut sesaat untuk membiarkan pasien menghembuskan nafas keluar (ekspirasi)
8.Lakukan lagi pemberian nafas sesuai dengan perhitungan agar nafas kembali normal

Nafas Buatan

Cara melakukan nafas buatan sama dengan nafas bantuan, bedanya nafas buatan diberikan pada pasien yang mengalami henti napas. Diberikan 2 kali efektif (dada mengembang )


Pijat Jantung

Pijat jantung adalah usaha untuk “memaksa” jantung memompakan darah ke seluruh tubuh, pijat jantung dilakukan pada korban dengan nadi karotis yang tidak teraba. Pijat jantung biasanya dipasangkan dengan nafas buatan (seperti dijelaskan pada algortima di atas)

Prosedur pijat jantung :
1. Posisikan diri di samping pasien

2. Posisikan tangan seperti gambar di center of the chest ( tepat ditengah-tengah dada)
http://home.utah.edu/~mda9899/Image19a.gif

3. Posisikan tangan tegak lurus korban seperti gambar
http://home.utah.edu/~mda9899/Image19b.gif

4.Tekanlah dada korban menggunakan tenaga yang diperoleh dari sendi panggul (hip joint)
5.Tekanlah dada kira-kira sedalam 4-5 cm (seperti gambar kiri bawah)
http://home.utah.edu/~mda9899/Image18.gif

6. Setelah menekan, tarik sedikit tangan ke atas agar posisi dada kembali normal (seperti gambar kanan atas)
7. Satu set pijat jantung dilakukan sejumlah 30 kali tekanan, untuk memudahkan menghitung dapat dihitung dengan cara menghitung sebagai berikut :
Satu Dua Tiga EmpatSATU
Satu Dua Tiga Empat DUA
Satu Dua Tiga Empat TIGA
Satu Dua Tiga Empat EMPAT
Satu Dua Tiga Empat LIMA
Satu Dua Tiga Empat ENAM

8. Prinsip pijat jantung adalah :
a. Push deep
b. Push hard
c. Push fast
d. Maximum recoil (berikan waktu jantung relaksasi)
e. Minimum interruption (pada saat melakukan prosedur ini penolong tidak boleh diinterupsi)


Perlindungan Diri Penolong

Dalam melakukan pertolongan pada kondisi gawat darurat, penolong tetap harus senantiasa memastikan keselamatan dirinya sendiri, baik dari bahaya yang disebabkan karena lingkungan, maupun karena bahaya yang disebabkan karena pemberian pertolongan.

Poin-poin penting dalam perlindungan diri penolong :
1.Pastikan kondisi tempat memberi pertolongan tidak akan membahayakan penolong dan pasien
2.Minimasi kontak langsung dengan pasien, itulah mengapa dalam memberikan napas bantuan sedapat mungkin digunakan sapu tangan atau kain lainnya untuk melindungi penolong dari penyakit yang mungkin dapat ditularkan oleh korban
3.Selalu perhatikan kesehatan diri penolong, sebab pemberian pertolongan pertama adalah tindakan yang sangat memakan energi. Jika dilakukan dengan kondisi tidak fit, justru akan membahayakan penolong sendiri.

Penutup
Sekian tulisan ini penulis buat, penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran dapat di alamatkan ke email.etja@gmail.com Semoga dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca dan terutama untuk penulis sendiri

Alat Mountenering


peralatan dan perlengkapan yang dibawa ketika mendaki gunung tropis 2000 m - 3800 m

utama

  
    Tas carrier / day pack (tergantung kebutuhan)
    cover bag
    Dry bag
    tenda
    matras
    slepping bag (SB)

alat - alat penunjang

    survival kit ( alat multifungsi: pisau lipat, peluit, tali, SPOT)
    navigation (GPS, kompas, Altimeter, termometer, barometer)
    komunikasi ( HP (klo da sinyal", Telpon sattelite, HT, WT,dsb)

cooking stuff n Logistic

    makanan yang cukup untuk kita bawa (roti, susu dsb.).
    obat- obatan pribadi (encok, nyeri, antiseptik, anti -nyamuk, anti lintah dan pacet) dan multivitamin (A-Z)
    energy bar (coklat, keju, gula merah, /yang mengandung kadar energi tinggi)
    kompor portable mini beserta gas/ parafin/ spirtus
    botol minum beserta air

Untuk pribadi

     Jacket (waterproof dan windproof)
     rain coat
     Sarung tangan
     kaos kaki min 2
     celana dalam
     jam tangan
     Sepatu /sandal
     topi / topi hangat dan sal leher
     kacamata
     hand body, sun block, pelembab bibir
     senter (headlamp, handlamp): LED/ Bolam kuning boros energi
     gaiter
     ikat pinggang, dompet, tas pinggang, gantungan kunci ( carrabiner mini)
     trekking pole

----------------------------------------------------------------------
Tas

    Day pack
    Body pack
    Carrier
    Hydration pack

SB


    Down ( mumi )
    Synthetic ( selimut)

Tenda/tents

    patrol
    ridge
    bell
    frame
    doom
    geodesic
    semi - geodesic
    single pole
    hybrid tunnel
    tunnel
    Hub and Swivel Pole 
    single arch
    pop up
    Curved "A" Reinforced Ridge
    single hoop
    lavvu /pyramid
    dsb