Penanganan Penyakit Gunung
Beberapa penyakit gunung ini bisa dicegah jika kita mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian, agar dapat menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati” sangat tepat untuk kegiatan ini. Dengan mengetahui lebih dini dan tahu cara penanganan jika terjadi resiko, maka akan meminimalisir dampak buruk dari kegiatan pendakian yang memang memiliki tingkat resiko cukup tinggi.
Simak juga: 8 Tips Pendaki Pemula
Berikut adalah beberapa kejadian yang dapat diklasifikasikan sebagai penyakit pegunungan (Mountain Sickness) :
- HIPOTERMIA
- Tubuh terendam dalam suhu dibawah titik beku dimana kejadian hipotermia akan cepat berlangsung.
- Hipotermia akan berlangsung perlahan bila berada/kontak lama dalam lingkungan suhu dingin.
- Hipotermia lebih mudah terjadi pada seseorang yang kelelahan, kelaparan, ketakutan, tubuh basah, terkena angin dingin, dan kekurangan oksigen pada ketinggian.
- Penurunan suhu tubuh dengan tanda-tanda korban, bila diraba seluruh tubuh terasa dingin dan tampak kelabu dan kebiru-biruan atau pucat
- Tanda-tanda vital : frekuensi nadi, kuat atau lemahnya denyut nadi tidak normal, begitu juga suhu tubuh dan pernafasannya tidak normal dibandingkan orang normal
- korban dapat mengalami penurunan kesadaran, mengantuk, mengigau (Linglung) atau tidak sadar.
- Yang harus diperhatikan pertama kali adalah resusitasi ABC, terutama jalan nafas, bila ada henti jantung atau henti nafas segera lakukan RJP.
- Cegah kehilangan panas, terutama panas tubuh dengan memindahkan korban dari lingkungan dingin. Pada penderita hipotermia ringan biasanya merespon terhadap penghambatan dari luar, dengan melepaskan baju basah dan dingin. Kemudian dipakaikan selimut/jaket yang hangat (bisa juga dengan Sleeping Bag). Dekatkan korban dengan perapian.
- Berikan korban minuman air gula yang hangat
- Segera evakuasi sambil memonitor kesadaran umum (kesadaran pernafasan dan denyut jantung)
- HIPOGLIKEMI
- keringat dingin, penglihatan menjadi kabur, kehilangan kemampuan untuk bergerak, kejang, jantung berdebar, cemas, gelisah, bingung bahkan tidak sadar.
Penanganannya :
- Baringkan korban tanpa bantal
- Jaga jalan nafas, berikan oksigen bila ada oksigen. Jika terjadi henti jantung dan atau henti nafas lakukan kembali RJP (Resusitasi Jantung Paru) seperti penanganan keadaan umum.
- Jika korban sadar cepat beri minum atau makanan yang kaya kandungan glukosa (manis, mengandung zat gula/pati)
- Korban harus tetap diusahakan dalam keadaan sadar, baik itu dengan cara dibangunkan ataupun dengan pemberian rangsangan sakit, hangatkan korban dan secepat mungkin dievakuasi ke instansi kesehatan terdekat untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya.
- FROSBITE
Frosbite dibagi menjadi dua golongan :
- Frosbite permukaan
Penanganannya :
- Letakkan bagian yang terkena pada anggota tubuh yang lain yang hangat tetapi jangan digosok agar tidak terjadi kematian/kerusakan jaringan.
- Rendam dengan air hangat, jangan menyentuh tersebut langsung ke benda panas, api, lampu atau batu panas.
- Beri makanan dan minuman hangat non alkohol dan gerakan bagian yang terkena, sebaiknya makanan dan minuman yang lembut.
- Frosbite dalam
Penanganannya :
- Lakukan pencarian seperti pada penanganan frosbite permukaan lakukan terus menerus dengan berurutan.
- DEHIDRASI
Baca pula: Pedoman memilih makanan untuk Survival
Bila ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada semua tingkat harus segera dilakukan penanganan karena keadaan ini dapat segera berubah menjadi keadaan yang lebih berat. Penanganan dehidrasi adalah dengan segera menghindarkan korban dari keadaan yang bisa menyebabkan atau memperberat dehidrasi. Kemudian jika korban dalam keadaan sadar segera berikan cairan yang ditambahkan gula sedikit garam (Larutan Garam Gula = LGG), oralite atau minuman sebanyak-banyaknya untuk menggantikan kehilangan cairan. Hati-hati pada orang yang kurang kooperatif atau tidak sadar karena bisa tersedak dan mengakibatkan kondisinya memburuk.
Tanda-tanda dehidrasi sesuai dengan derajatnya :
| Gejala Klinik | Ringan | Sedang | Berat |
| Kesadaran | Sadar | Mengantuk/Apatis | Tidak sadar |
| Nadi | Agak cepat | Cepat | Susah teraba |
| Pernafasan | Normal | Agak Cepat | Lambat |
| Elastisitas Kulit | Normal | Agak Turun | Sangat Turun |
| Selaput Lendir Mulut | Basah | Kering | Sangat Kering |
| Rasa Haus | + | ++ | ∞ |
| Air Seni | Normal | Turun Sedikit | Tidak Ada |
- HEAT STROKE
- Kenaikan suhu badan yang tinggi
- Kejang
- Penurunan kesadaran, koma bahkan kematian
- Gejala Lanjutan : korban menjadi pasif (malas berkomunikasi), muntah yang sangat hebat, suhu tubuh menjadi sangat panas (≥ 45°C), nadi sangat cepat (≥ 160x/menit), pernafasan cepat, kejang pada bagian tubuh tertentu, kulit menjadi merah, panas dan kering.
- Gejala Kritis : Syok, kesadaran semakin menurun, pupil membesar, kejang pada seluruh tubuh.
- Jaga jalan nafas tetap bebas, pernafasan tetap baik, lakukan RJP jika perlu kecuali gejala heatstroke secara dini, pindahkan ke tempat yang teduh, baringkan korban, longgarkan pakaian dan perlengkapannya.
- Apabila tidak ada alat pengukur suhu tubuh, kita dapat membandingkan suhu tubuh korban dengan suhu tubuh kita sebagai penolong
- Dinginkan tubuh korban dengan segera sampai suhu tubuh kira-kira 38.5°C dengan mengompres tengkuk dengan air dingin, dan bila mungkin diberi cukup air minum
- Keringkan tubuh korban untuk mencegah korban jatuh kedalam keadaan hipotermia.
- Monitor suhu tubuh setiap 5 menit, jaga korban tetap dalam keadaan sadar.
Jika Heat stroke ini didiamkan akan menyebabkan mati suri, keadaan lebih lanjut dari pingsan dimana fungsi pernafasan menurun dan tidak mencukupi lagi, korban jadi tidak sadar, denyut nadi tidak teraba, dan pernafasan tidak tampak, pupil mata melebar dan ada reaksi terhadap penyinaran, muka pucat kebiru-biruan.
Demikian beberapa penyakit Gunung yang perlu diketahui oleh para pendaki Gunung. Semoga ulasan ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar